Cara Menjamas Pusaka, Pedoman Singkat Membersihkan Benda Pusaka

Cara Menjamas Pusaka, Pedoman Singkat Membersihkan Benda Pusaka duniaklenik.com

Duniaklenik.com - Menjamas pusaka bisa dikatakan mudah, namun bisa juga dibilang sulit(terutama yang tidak mengetahui caranya). Tradisi jamasan pusaka secara umumnya memerlukan berbagai uborampe yang lumayan banyak. Di antaranya adalah warangan yakni sejenis bahan kimia yang terdapat di toko bahan kimia. Adapun warangan berguna membersihkan permukaan besi tosan aji(pusaka), sekaligus untuk lebih mempertajam pamor benda pusaka itu sendiri. 

Sesudah dipoles dengan warangan, guratan estetis batu meteor atau pamor dan inti baja pada benda pusaka (khususnya mata tombak dan keris) akan menjadi tampak jelas dan terlihat kontras. Hingga mudah dibaca dan dipahami apa arti pamor benda pusaka tersebut. 

Untuk mendapatkan warangan mungkin sebagian akan merasa kesulitan. Dan tentunya butuh biaya yang lumayan besar. Belum lagi di antara Anda mungkin tidak tahu tatacara menjamasi tosan aji, atau tidak memiliki waktu untuk menjamasi pusaka koleksi pribadi, dan lebih memilih membayar jasa seseorang yang ahli jamas pusaka. Sebenarnya sih boleh-boleh saja dilakukan, akan tetapi bila koleksi pusaka Anda begitu banyak jumlahnya berarti Anda harus mengeluarkan biaya yang banyak pula. http://duniaklenik.com/

Dan lagi bagi pemilik benda pusaka namun tidak ada anggaran untuk membayar jasa penjamas pusaka, sepertinya perlu sedikit pengetahuan mengenai jamasan pusaka paling tidak cara yang sederhana namun tetap tidak menghilangkan fungsi dan maknanya.

Kesempatan kali ini duniaklenik.com akan memberikan contoh jamasan pusaka secara simple. Semoga dapat menambah wacana bagi Anda yang ingin sekali melaksanakan jamasan tetapi tidak cukup waktu atau biaya dapat menjamasi sendiri benda-benda pusaka koleksinya dengan mudah.

Bahan-bahan yang diperlukan untuk menjamas
  1. Kembang(bunga) setaman terdiri dari 5 macam bunag antara lain bunga mawar merah, melati, kanthil, mawar putih, kenanga.
  2. Pewangi (minyak wangi) dengan bahan dasar bunga melati, atau kayu cendana, atau bahan berbagai bunga misalnya minyak serimpi cap putri duyung.
  3. Jeruk nipis, atau belimbing wuluh.
  4. Nampan atau baki.
  5. Menyan(kemenyan) atau dupa(ratus).
  6. Kain mori sekitar 1-2m.
  7. Tikar dan sikat gigi yang baru(tidak boleh bekas).

Persiapan pertama
Bentangkan tikar di lantai. Persiapkan segala macam uborampe yang diperlukan: kembang, sikat gigi, minyak wangi, dan yang lainnya. Lalu bunga setaman ditaruh di dalam baki yang sudah diisi air secukupnya. Taruh baki yang telah berisi kembang setaman tersebut di atas tikar yang sudah dibentangkan tadi. Gelarlah kain mori di sebelah baki, nanti digunakan untuk meletakkan pusaka yang akan dijamasi dan untuk mengeringkan pusaka sehabis dicuci air kembang setaman. Bakar atau nyalakan kemenyan atau dupa, pilih salah satu saja.

Mengingat bau kemenyan sangat menyengat jika dirasa akan mengganggu lingkungan sekitar Anda saat anda membakarnya, Sobat duniaklenik.com boleh tidak membakarnya, cukup masukkan saja bersama kembang setaman di dalam baki berisi air. Sehingga Anda cukup membakar dupa atau ratus (bukan kemenyan). Setelah itu letakkan pusaka di atas kain mori yang sudah digelar. 

Langkah berikutnya 
Yang pertama, jadilah diri sendiri. Caranya yaitu berpakaianlah milik Anda sendiri, pilih pakaian yang bersih. Perhatikan sikap sopan dan santun. Maksudnya adalah jangan slengekan atau sambil bercanda. Untuk pakaian ada baiknya mengenakan pakaian adat budaya Anda sendiri, dengan alasan supaya lebih khikmad, serta lebih sakral karena menyatu dalam penghayatan lahir batin antara nilai yang terkandung di dalam benda pusaka dengan nilai kearifan lokal adat istiadat budaya Anda. Bayangkan saja menjamasi pusaka dengan berpakaian seperti mau keluar malam untuk mengunjungi tempat pesta. Akan lebih sulit untuk berkonsentrasi dalam keheningan lahir dan batin Anda.

Selalu libatkan perasaan batin Anda. Caranya, lakukan dengan tulus, dan dengan pemahaman yang tepat akan arti dan tujuan penjamasan benda-benda pusaka. Guna mendukung pelibatan perasaan batin ini, langkhnya adalah lakukan dahulu penyelarasan atau attuntment antara kesadaran batin Anda dengan nilai benda pusaka yang akan Anda jamas. Yaitu dengan cara, beri penghormatan, layaknya prajurit menghormat kepada komandannya. Juga seperti seorang anak menghormat kepada orang tuanya. Dalam hal ini Anda dapat melakukan sungkem, yaitu kedua telapak tangan menyatu, lalu ditempelkan ke dada. Ketika melakukan sembah sungkem letakkan benda pusaka dihadapan Anda.

Adapun cara lain sembah sungkem, pegang benda pusaka ditangan kanan Anda kemudian letakkan di jidat tepatnya diatas pangkal hidung. Makin Anda menghormati dan menghargai pusaka atau si pembuat pusaka atau para pendahulu yang mewariskan pusaka, posisi sembah sungkem sebaiknya ditempatkan lebih tinggi lagi, contohnya di bawah dagu, bisa juga di depan mulut hingga di atas pangkal hidung. Sungkem atau 'nyembah' janganlah diartikan sama dengan menyembah Tuhan, di dalam kamus Jawa menyembah berarti menghormati atau memberikan sikap penghormatan, laksana prajurit menempelkan ujung tangannya di kening untuk 'nyembah' sang komandan. 

Perlu dan penting untuk diketahui apabila Anda mengetahui apa nama benda pusaka yang akan dijamasi, maka sebutkanlah nama benda pusaka itu. Nama diucapkan pada saat Anda melakukan sembah sungkem. Dan untuk ucapannya kurang lebih seperti ini;

"Puunten ndalem sewu….(ucapkan nama pusaka) kepareng kula badhe njamasi pusaka. Suuci lair kalawan suci batiin, manuunggal jagad alit kalawan jagad ageng, saaking kersaning Gusti“.

Bila tidak tahu nama benda pusaka yang akan dijamas, maka titik-titik di atas tidak perlu diisi nama(disebutkan). Cukup melakukan “seembah sungkeem” setelah itu pusaka dikeluarkan dari sarung(warangkanya) secara perlahan dan hati-hati.

Sesudah sembah sungkem dilakukan, terutama untuk pusaka yang ada sarung(warangka)nya, angkat(cabut) pusaka dari dalam sarungnya pelan-pelan supaya tidak ada kerusakan sama sekali. Sobat duniaklenik.com, cara mencabut bisa diposisikan horisontal di hadapan dada Anda, bisa juga di atas pangkuan Anda dengan cara ditarik ke samping kanan atau kiri. Dan bisa juga diposisikan vertikal di hadapan wajah Anda.  Setelah itu tangkai dicabut perlahan ke arah atas hingga keluar seluruhnya. Berikutnya masukkan benda pusaka ke dalam baki yang sudah berisi kembang setaman tadi. Basuh dengan air dan kembang seluruh permukaan benda pusaka itu. 

Lakukan pembersihan kotoran, atau debu-debu yang melekat dengan tangan Anda perlahan dan hati-hati agar tidak terluka. Anda juga bisa menggunakan sikat gigi yang masih baru (khusunya jika menggunakan warangan)  dan menyikat permukaan benda pusaka tersebut. Perlu di perhatikan, jangan sekali-kali menggunakan ampelas, atau kikir besi untuk menghilangkan karat karena akan merusak bahkan merubah bentuk asli pusaka. 

Dalam membersihkan karat cukup menggunakan belimbing wuluh atau menggunakan jeruk nipis yang sudah Anda siapkan sebelumnya. Dengan cara belah belimbing wuluh atau jeruk nipis, lalu gosokkan pada permukaan benda pusaka yang Anda bersihkan. Fungsi keduanya adalah air senyawa asam mudah melarutkan karat. Sobat duniaklenik.com, bila dirasa sudah bersih dari kotoran dan karat, lakukan pembilasan atau cuci kembali dengan air bunga setaman.  Kemudian keringkan dengan lap kain mori yang sudah disiapkan sebelumnya. Tujuan penggunaan belimbing wuluh atau jeruk nipis adalah sebagai pengganti warangan. Namun bila Anda ingin menggunakan warangan hendaknya jangan kontak langsung dengan jari tangan karena warangan merupakan sejenis racun arsenik yang berbahaya jika tertelan.

Sesudah cukup kering, perlahan-lahan mulai oleskan minyak wangi yang telah Anda siapkan keseluruh permukaan benda pusaka Anda. Sobat duniaklenik.com, tak perlu menggunakan kapas atau kain. Cukup menggunakan jemari tangan Anda, namun perlu berhati-hati agar jari tangan tidak tergores permukaan benda pusaka milik Anda. Oleskan minyak dengan penuh penghayatan dan melibatkan segenap rasa welas asih dari dalam relung hati Anda. Di saat mengoleskan minyak wangi, barengi dengan memahami nilai-nilai luhurnya, estetika, serta tumbuhkan rasa terimakasih kepada para pendahulu kita, siapapun yang membuat benda penuh nilai-nilai estetik dan nilai luhur esoterik tersebut. 

Untuk benda pusaka yang memiliki getaran energi, cobalah rasakan energi darinya, dan sambunglah antara energi pusaka dengan energi Anda sendiri, penyelarasan dan penyatuan antara energi makrokosmos dengan eneri mikrokosmos. 

Pada pusaka terutama produk lokal atau asli Nusantara hindari menggunakan semacam minyak japaron, jebat, hajaraswat, sebab password dan getaran energinya berbeda sehingga tidak matching. Hindari menggunakan minyak pusaka palsu karena kandungannya justru dapat menyebabkan timbulnya karat pada pusaka.  Disamping itu bahan minyak merupakan intisari unsur alam yang memiliki getaran energi bersifat khas sesuai asal dan tempat di mana bahan-bahannya hasil bumi itu tumbuh dan berkembang. Contohnya keris Jawa diminyaki dengan minyak zaitun khas tumbuhan padang pasir, atau minyak kayu oax khas Benua Amerika tentu getarannya tidak sinkron. 

Perlu diingat juga untuk membersihkan sarung pusaka (warangka). Permukaan luar dan dalam cukup dibersihkan dan tak perlu dioles minyak wangi. Selanjutnya minyak yang sudah merata di permukaan benda pusaka tidak usah dilap lagi. Sesudah semua bersih, dimasukkan lagi pusaka ke dalam sarung (warangka) yang sudah anda bersihkan tadi. 

Gunakan kain mori untuk pusaka yang tidak ada sarungnya. Sebelum menyarungkan atau membalut pusaka yang telah selesai dijamas, berikan penghormatan sekali lagi dengan cara pusaka diangkat atau digenggam kemudian genggaman tangan Anda tempelkan diatas hidung atau tepat dijidat, baru kemudian disarungkan atau dibalut kain mori.

Itulah tadi sedikit ulasan tentang Cara menjamas Pusaka, pedoman singkat membersihkan benda pusaka. Semoga dapat memberi manfaat untuk para penggemar pusaka, terutama untuk para pemula.

1 Response to "Cara Menjamas Pusaka, Pedoman Singkat Membersihkan Benda Pusaka"

  1. Trima kasih mas Klenik, atas pedoman mencuci pusaka. Kebetulan sy ada. pusaka peningalan kakek yg sdh bertahun tahun disimpan suka minta tlg paman mandikannya. Saya mau coba sendiri, namun ya. jadi krsulitan saya untuk minyaknya

    ReplyDelete