Kisah Misteri, Bertemu Orang Bunian di Kebun Dekat Hutan

Kisah Misteri, Bertemu Orang Bunian di Kebun Dekat Hutan duniaklenik.com

Duniaklenik.com - Hari minggu yang lalu, aku pulang ke rumah orang tua ku yang notabene tinggal beda kota dengan aku.  Tempat tinggal orang tua ku di salah satu daerah di Kepulauan Bintan.

Pada minggu pagi, ayah ku ngajak aku untuk melihat tanah milik keluarga ku yang letaknya di perbatasan kecamatan dan lahan tersebut berbatasan langsung dengan hutan lindung. Kata ayah ku, ayah mau membuat patokan batas tanah. 

Biar lebih jelas, lahan tersebut tidak terlalu luas hanya beberapa hektar, serta berada di kanan kiri jalan raya. Pada sisi yang kontur tanahnya datar, tak ada masalah karena hanya berbatasan dengan lahan milik orang lain dan sudah ada patokan pemisah lahan. 

Namun untuk lahan yang struktur tanahnya landai seperti jurang yang tidak terjal itulah yang akan di buat patokan lahan yang berbatasan dengan hutan lindung.

Pukul 10 pagi aku berdua ayah ku berangkat ke kebun (ya, kami menyebutnya kebun, walaupun sebenarnya lebih mirip hutan karena tidak di tanami apa-apa selain pohon dan semak belukar yang semenjak awal memang sudah begitu) menggunakan mobil. 

Ketika sudah sampai ke kebun kami,  telah menunggu seorang laki-laki yang menurut ayah ku itu tukang yang akan membantu ayah ku membuat batas patokan tanah. Dengan meteran, ayah dan temannya itu segera mengukur lahan sesuai dengan akta surat tanah milik ayah ku.

Kata ayah ku, dahulu sudah pernah di buat batas lahan, tetapi karena daerah tersebut sepi dan belum ada rumah penduduk di dekat daerah itu, maka rawan terjadi pencurian lahan, serta batas lahan yang di bangun sudah di rusak orang lain (sebetulnya aku kurang paham maksud ayah ku, kenapa juga lahan yang ada akte sah nya bisa di serobot orang?).

Mereka bekerja dan mulai memasuki lahan makin kedalam arah hutan, sementara aku hanya duduk-duduk di dalam mobil sambil mendengarkan musik kesukaanku. Namun, tiba-tiba saja aku ngerasa pengin (sory) buang air kecil...waduh, bingung nih.. 

Padahal di daerah itu tak ada satu pun rumah penduduk yang bisa aku pinjam toiletnya untuk numpang buang air, kalau cari mushola terdekat juga repot, soalnya aku gak bisa nyetir mobil, mau minta di anterin ayah pasti nanti marah, karena kerjaannya terganggu karena aku. Ya sudah untuk menghilangkan rasa kebelet, akhirnya aku jalan-jalan di sekitar kebun. Sobat duniaklenik.com, sambil mendengarkan musik aku berjalan mengikuti batas paling luar tanah ayah ku yang berbatasan dengan jalan raya,  aku lihat jalan mengarah ke daerah yang lebih curam, beberapa saat aku perhatikan ada tangga yang sengaja di buat dari tanah yang di cangkul menyerupai anak tangga. 

Sebentar aku melirik  ke arah mobil yang berjarak sekitar 30 m dari tempat aku berdiri, hm.. aku pikir gak jauh-jauh amat, jika aku menuruni lereng itu terus ketemu ular dan aku teriak pasti masih kedengaran oleh ayah ku.

Kuputuskan untuk menuruni lereng didepanku, cukup terjal juga, semakin ke bawah makin tak kelihatan jalan raya di atas ku karena tertutup rerumputan liar, namun untungnya pepohonan tidak terlalu rimbun, sehingga keadaan sekitar terang benderang. 

Saat sampai di bawah di arah kananku ternyata ada mata air yang mirip air terjun cuma lebih kecil dan rendah posisinya, kulihat airnya mengalir membentuk sungai kecil kedalam hutan, yuhui..kebetulan lagi kebelet pikir ku. 

Tanpa kusadari tiba-tiba ada ibu-ibu nyamperin aku dan mengajak ke gubuknya waktu aku jelasin aku mau buang air kecil di tempat itu. Dalam hati aku heran juga sih kenapa tuh ibu-ibu ada di dalam hutan, namun rupanya ada dahan-dahan kering yang dikumpulkan ibu itu di sebelah aliran sungai, kata ibu itu, untuk kayu bakar.

Ketika sampai di gubuknya aku langsung ngacir ke sumur (tidak ada toilet disana, hanya sumur yang dindingnya bilik setengah badan). Sesudah selesai aku lihat ibu itu sedang berbicara dengan suaminya di samping rumah. Tampaknya sang suami sedang memilih bibit bawang merah. 

Ups.. ntar dulu deh, menurut ayah ku tanah ini milik ayah ku yang berbatasan dengan hutan lindung, sementara sisi satunya langsung tembus ke pantai(laut), berarti bapak dan ibu ini tinggal di lahan ayah ku dong?, Sebab gak mungkin ini kawasan hutan lindung, karena hutan lindung nya di pagar kawat yang memiliki tinggi 2 meteran, dan tadi aku gak ngerasa kalau lewatin pagar.

Ketika aku liat kebelakang rumah si ibu-ibu tadi, wah..ternyata ada kebun sayuran, dan lumayan luas. 
Nampaknya belum lama di tanami karena yang kelihatan cuma tunas-tunas pendek, tapi aku tak tahu itu sayur apaan.

Merasa penasaran akhirnya aku bertanya dengan si bapak itu.

Aku:  Bapak, maaf ya, kalau boleh saya tahu, hm..ini tanah siapa yang bapak tanami sayur?

Bapak2: Ya tanah saya neng, kenapa sih neng?

Aku: Itu pak eh anu, gini pak,..setahu saya ini masih tanah ayah saya pak, sampai dengan batas hutan lindung sana (sambil menunjuk ke arah hutan lindung), teru ujung nya ke arah pantai (sambil berbalik menunjuk ke arah pantai)

Bapak2: Ahhh, eneng salah kali, tanah ini sudah bapak beli sejak 5 bulan lalu neng, dan surat jual-belinya juga ada kok neng, ya bu ya? (sambil melirik ke istrinya)

Ibu2:  Iya, betul neng, kami beli sama pak awang yang punya tanah ini.

Aku: Sebelumnya maaf ya bu, tetapi nama ayah saya bukan pak awang kok. hm... o iya, kalau memang ada aktenya boleh saya melihatnya bu?

Ibu2:  Anu neng, untuk aktenya belum di kasih ke kita, sebab kata pak awang di urus balik nama dulu, jadi kami hanya pegang surat jual beli dan kwitansi saja.

Aku:  Aduh bu, wah jangan-jangan bapak sama ibu di tipu lho. Karena ini bener tanah ayah saya bu. Atau begini aja deh, saat ini kebetulan ayah saya ada di sebelah arah hutan lindung lagi bikin batas tanah disana, apa saya panggil kesini aja ya, soalanya sepertinya tadi ayah bawa akte tanah buat memastikan ukuran. Tunggu sebentar ya bu, pak... saya panggil ayah saya dulu..

Aku pun berjalan menaiki lereng kembali kearah jalan raya, saat kulihat kebelakang bapak dan ibu itu sepertinya resah dan sedih. Hm.. kasihan juga ya, Jika benar mereka di tipu pasti sedih sekali, mana kebunnya baru ditanami lagi. Sepertinya biaya untuk bangun gubuk dan menanami kebun mereka pasti tidak sedikit juga jumlahnya.

Sesampainya di mobil aku mengklakson berkali-kali, karena aku tidak tahu ayah ku pastinya di arah mana masuk hutannya tadi. Tak beberapa lama kemudian ayah ku sama si tukang datang.

Lalu aku ceritakan semua kejadian yang kualami barusan, tak terkecuali nama pak awang yang menurut bapak dan ibu tadi yang menjual tanah pada mereka beruda. Kata ayah ku pak Awang itu, namanya memang terkenal preman kampung daerah tersebut dan suka memperdaya pendatang dengan cara menjual lahan yang bukan miliknya (milik orang lain). Anehnya selalu saja ada orang yang bisa di yakininya untuk membeli lahan yang bukan miliknya tersebut.

Lalu aku putuskan mengajak ayah dan pak tukang untuk turun ke lereng untuk bertemu dan melihat kebun milik bapak dan ibu yang tadi aku temui. Sobat duniaklenik.com, sementara menuruni lereng ku bujuk ayah ku agar mengijinkan bapak dan ibu itu untuk terus berladang disana karena kasihan mereka sudah bersusah payah, untungnya ayah ku setuju dengan permintaanku.

Namun begitu sampai di lereng ditempat dimana aku bertemu bapak dan ibu tersebut, Alangkah terkejutya aku, sebab ternyata hanya padang ilalang dan tanaman liar saja. Tak terlihat sedikit pun bekas di bangunnya rumah dan kebun sayur. Sejenak aku hanya terdiam, kurasakan kaki ku tiba-tiba dingin dan kepala ku berat sekali. Beberapa saat aku merasa akan pingsan, namun ayah ku langsung menahan tubuh ku dan menyuruh aku duduk pada batu di samping sungai.

Mulutku terdiam sambil terus memandang ke arah rumah dan kebun yang tadi aku lihat. Masak iya sih?, bagaimana bisa mereka mengilang?, atau rumahnya langsung di bongkar? atau jangan-jangan mereka hantu? Rasanya janggal deh siang-siang begini ada hantu?  Pusing menghantam kepalaku seketika. 

Kudengar ayah ku berbicara dengan pak tukang yang menjelaskan bahwa mungkin tadi yang aku lihat adalah orang bunian (istilah daerah setempat untuk orang halus-makhluk halus). 
Lalu menurut pak tukang, bila memang pak Awang telah menjual tanah ayah ku pada orang bunian, bisa-bisa akan sangat celaka.

Aku masih terdiam seraya bergumam lirih "Bu, Pak, saya minta maaf ya, saya bukan maksud mau mengusir ibu sama bapak, sebenarnya malah saya mau minta ayah memberi ijin bapak sama ibu untuk mengelola lahan ini, dari pada hanya menjadi padang ilalang dan hutan, akan jauh lebih bermanfaat kalau bapak dan ibu kelola saja". Lamat-lama aku mendengar suara perempuan lirih, iya, suara ibu yang tadi kutemui "terima kasih buat neng, serta terima kasih juga buat ayah eneng, kami sudah tau niat baik eneng dan ayah nya eneng, tetapi kami mau pulang lagi saja ke kampung kami."  Anehnya ayah dan pak tukang tidak mendengar suara tersebut.

Kata pak tukang, alangkah baiknya pekerjaan hari ini dilanjutkan besok pagi saja, agar aku bisa pulang dan istirahat.

--

Pada hari selasa saat aku sedang makan siang di kantorku (minggu sore, aku sudah pulang dari rumah orang tuaku) ayah ku menelpon, mengatakan bahwa senin siang saat ayah ku dan pak tukang menyelesaikan pekerjaannya mengukur tanah, mereka mendengar kabar bahwa pak Awang (preman kampung yang menjual tanah ayah ku itu)  menemui ajalnya(meninggal) pada minggu malam di rumahnya. Aku terkejut... entahlah apa ada hubungannya dengan kejadian kemarin atau tidak aku tidak tahu.

0 Response to "Kisah Misteri, Bertemu Orang Bunian di Kebun Dekat Hutan"